Essay Bulanan: “Amerika, Arab Spring dan Masa Depan Timur Tengah”

Oleh : Muhammad Arditya R.

(Wakil Kepala Komisi Legislasi)

 

Beberapa minggu terakhir, situasi di Timur Tengah kembali memanas. AS beserta sekutunya memaksa Iran untuk menghentikan produksi nuklirnya. AS berpendapat bahwa produksi nuklir Iran bertujuan untuk membuat senjata pemusnah massal berdaya ledak nuklir. Hal ini terus-menerus dibantah oleh Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad bahwa produksi nuklirnya diperuntukkan untuk pengembangan listrik bertenaga nuklir (PLTN). Berkali-kali dilakukan perundingan antara AS dan Iran yang dimediasi oleh oleh PBB. Namun, mediasi selalu berakhir deadlock. Bahkan, di beberapa kesempatan presiden AS Barack Obama mengancam akan melakukan serangan militer kepada Iran jika terus melakukan produksi nuklirnya. Hal ini direspon negatif oleh Iran. Presiden Ahmadinejad bahkan pernah berkata bahwa Garda Revolusi Iran (TNI-nya Iran) siap menghadapi serangan militer AS, jika hal tersebut benar-benar terjadi. Mengapa banyak sekali ketidakstabilan politik di Timur Tengah dan apa implikasinya bagi masa depan Timur Tengah?

Saya akan memulai urutan ini bermula dari adanya Revolusi berdarah di Tunisia. Bouazizi, seorang pedagang sayur dan buah-buahan di Tunisia tiba-tiba membakar dirinya sendiri hingga meninggal sebagai bentuk protes Bouazizi kepada pemerintah karena merasa dilecehkan dan kinerja yang buruk oleh pemerintah Tunisia. Setelah itu merebaklah Revolusi Tunisia yang mengakibatkan Presdien Ben Ali turun tahta secara paksa. Revolusi Tunisia ini menginspirasi terjadinya Revolusi Mesir. Demonstrasi besar-besaran di Mesir berhasil menjatuhkan rezim Presiden Husni Mubarok. Lalu, warga Libya pun terinspirasi dari gerakan rakyat di Tunisia dan Mesir ini. Namun, Presiden Muammar Khadafi bersikukuh untuk menolak turun dari jabatannya. Kaum revolusioner pun muncul  dan berusaha menjatuhkan Khadafi secara militer. Di saat yang sama, AS dan NATO melancarkan serangan militer kepada Libya supaya Khadafi turun. Akhirnya, Khadafi ditemukan tewas setelah pertempuran antara kaum revolusioner, NATO, dan loyalis Khadafi. Tidak lama setelah meninggalnya Khadafi, Presiden Yaman Ali Abdullah bersedia turun setelah menandatangani perjanjian dengan negara-negara teluk lainnya. Bedanya adalah Jika Revolusi di Tunisia, Mesir, dan Libya memakan korban jiwa, kemunduran Presiden Ali relatif tanpa kekacauan berarti. Kejadian revolusi beruntun di Timur Tengah ini terkenal dinamakan Arab Spring. Hingga tulisan ini dibuat, Suriah dan Bahrain masih mengalami kekacauan politik untuk menurunkan pemimpin di negara masing-masing.

Beberapa hal perlu dikritisi disini. Pertama, Revolusi di Tunisia dan Mesir berjalan tanpa intervensi militer dari luar, sedangkan Revolusi di Libya menggunakan intervensi militer dari luar. Disinilah peran AS dalam mengontrol Timur Tengah. Terdapat satu perbedaan mencolok antara Libya dan Tunisia-Mesir. Ya, Libya memiliki cadangan minyak yang sangat berlimpah (dan terbesar di Afrika) dibandingkan dengan kedua negara lainnya. Bukan tidak mungkin negara-negara Eropa dan AS berusaha menyerang Libya karena ingin berebut “kue” minyak yang ada di Libya. Disinilah adanya konspirasi AS-NATO dalam revolusi Libya. Selain itu, AS tidak melakukan serangan militer terhadap revolusi di Timur Tengah dan Afrika Utara kecuali kepada Libya. Kedua, jarak dari setiap revolusi ini saling berdekatan. Tunisia pada 2010, Libya, Suriah, Yaman, Mesir dan bahrain terjadi pada 2011. Tentu saja ini tidak rasional. Hal ini bisa saja sudah di-setting oleh AS dan sekutunya untuk mendesain Timur Tengah sesuai yang mereka inginkan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Timur Tengah merupakan kawasan dengan cadangan minyak terbesar di dunia. Jika menguasai minyak, maka AS akan mampu mengontrol dunia lebih mudah.

Menurut pendapat saya, kejatuhan pemimpin di Suriah dan Bahrain tinggal menunggu waktu saja karena tekanan internasional terhadap kedua negara ini sangat kuat sehingga rakyat akan semakin berani untuk menggulingkan pemerintahnya. AS tahu bahwa Iran adalah musuh terberatnya dalam “axis of evil” selain Kuba dan Korea Utara. Apalagi Israel sebagai sekutu setia AS berusaha membangun negara Israel Raya yang mencakup Mesir dan kawasan Timur Tengah. AS dan Israel berusaha menguasai dunia melalui penguasaan minyak di Timur Tengah dan Iran salah satu negara dengan cadangan minyak di Timur Tengah. Jika dunia internasional terus membiarkan konspirasi AS-Israel ini terus berjalan, niscaya terjadinya Perang Dunia III akan menjadi kenyataan.

 

One thought on “Essay Bulanan: “Amerika, Arab Spring dan Masa Depan Timur Tengah”

Leave a Reply