Essay Bulanan: “Revitalisasi Peran Mahasiswa dalam Gerakan Mahasiswa”

by bpm
Categories: Essay Bulanan
Tags: No Tags
Comments: No Comments
Published on: May 4, 2012

Oleh : Taufiq Nur

(Kepala Komisi Pengawasan dan Konsultasi BEM)

 

Dewasa ini, telah terjadi pergeseran yang sangat signifikan peran mahasiswa sebagai oposisi  permanen pemerintah dan gerakan radikal elegan. Seyogyanya, mahasiswa adalah pihak yang paling depan dalam menyuarakan aspirasi dan segala keluh kesah masyarakat karena mahasiswa dianggap pihak yang tanpa kepentingan dan tulus bergerak dalam perjuangan. Namun, faktanya, setelah penggulingan orde baru dan digantikan orde reformasi, gerakan mahasiswa menjadi ‘melempem’. Banyak orang justru malah under estimate dengan gerakan mahasiswa akhir-akhir ini. Terlepas dari faktor eksternal yang ingin menggembosi gerakan mahasiswa, sudah saatnyalah mahasiswa bersatu-padu dalam perjuangan. Perlu adanya introspeksi secara internal dan mendalam terkait gerakan mahasiswa karena masih banyak sekali isu yang perlu penanganan secara cepat dan tepat. Setidaknya, ada dua hal yang perlu menjadi perenungan bersama mahasiswa dimanapun berada, yaitu tingginya jurang perbedaan antar gerakan mahasiswa dan rasa primordialisme yang masih tinggi dikalangan mahasiswa.

Pertama,  diakui bersama, terdapat berbagai macam komunitas yang mengatasnamakan gerakan mahasiswa. Semuanya memilki idealisme masing-masing. Dan semuanya selalu mengatakan gerakannya adalah murni untuk membela rakyat. Tapi, yang sangat miris adalah berbagai gerakan ini malah saling menjatuhkan dan menjelek-jelekkan satu sama lain. Setiap gerakan ingin lebih unggul dengan gerakan yang lain. Setiap gerakan selalu mengatakan dirinya tulus bergerak tanpa kepentingan. Apakah sebenarnya motif mereka semua? Terlepas dari itu semua, yang perlu disadari bersama adalah jika memang setiap gerakan mengatasnamakan kepentingan rakyat, bukan saatnya lagi kita saling menjatuhkan. Semangat kebhineka-tunggal-ikaanlah yang perlu sama-sama kita junjung. Tidakkah sejarah panjang Indonesia menjadi pelajaran bagi kita semua. Bila kita mau menengok kebelakang, Indonseia mendapatkan kemerdekaan karena adanya persatuan. Sekian abad kita berjuang secara acak dan terpecah-pecah untuk mendapatkan kemerdekaan, tapi hasilnya hanya ribuan bahkan jutaan jiwa yang melayang. Hanya kurang dari satu abad, dengan semangat kebhineka-tunggal-ikaan, kemerdekaan berhasil kita raih.

Kedua, senada namun berbeda dengan yang pertama, Rasa kebanggaan sebagai mahasiswa universitas dan fakultas x ternyata sangat tinggi di kalangan mahasiswa. Setiap mahasiswa merasa sangat bangga dengan atribut universitas dan fakultasnya masing-masing. Mereka juga saling merasa lebih tinggi dengan lainnya. Adalah sebuah kewajaran jika universitas yang satu lebih baik dari universitas yang lain. Tapi dalam bingkai perjuangan, pengotak-ngotakkan itu tidaklah hal relevan yang perlu dibahas. Yang perlu dikedepannkan adalah apa yang kita bisa beri untuk berkontribusi bukan apa yang membuat kita lebih lebih baik dari universitas atau fakultas lain dalam gerakan mahasiswa. Competitive advantage suatu universitas adalah anugerah bagi mahasiswanya. Tapi terlena dengan  hal itu juga bukan merupakan hal yang bijak.  Mungkin paparan diatas masih dalam kerangka yang normative, tapi rasa primordialisme yang tinggi dikalangan mahasiswa adalah suatu yang masih terjadi. Kita dapat melihat hingga hari ini, masih saja ada berita antar mahasiswa berkelahi untuk urusan yang tidak pasti. Tidak bisa kita bayangkan jika dahulu para pejuang kemerdekaan mengedepankan rasa kebanggaan kesukuannya. Pasti, kemerdakaan 17 Agusutus 1945 hanyalah mimpi.

Melihat dua fenomena ini, jika memang ada keinginan dari mahasiswa untuk mentajikan gerakannya kembali, hal yang sangat perlu dilakukan adalah kolaborasi gerakan secara harmonis dan sinergis antar gerakan mahasiswa di berbagai universitas. Bukan saatnya lagi untuk saling menuduh, melainkan saling memercayai. Itulah yang dibutuhkan saat ini. Tidak perlu memperbesar jurang perbedaan karena kehidupan dan tuhanlah yang akan menyeleksi mana yang memang bergerak tulus dan mana yang memang hanya terjebak kepentingan pragmatis oportunis. Dan satukan segenap potensi yang ada untuk berkontribusi dengan segala kreasi yang bisa membuat bangsa ini menjadi lebih baik. Keunggulan yang dimilki bukan untuk menjadikan diri kita berbangga, tetapi membuat diri kita terpacu karena kita menanggung beban yang lebih dibanding yang lain. Karena gerakan mahasiswa bukan sekadar kata-kata manis dan mencari sensasi untuk citra belaka.

 

No Comments - Leave a comment

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>


Welcome , today is Wednesday, July 30, 2014